Unrinews. Hilirisasi Riset Dosen Unri, Menyulap Mikroba Laut Menjadi Produk KecantikanUnrinews – Kekayaan biodiversitas laut dan mangrove Indonesia kembali melahirkan inovasi menjanjikan. Melalui Program Riset Konsorsium Unggulan Berdampak (RIKUB), tim peneliti Universitas Riau (Unri) bersama mitra dari Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dan industri Natureline mengembangkan produk spray postbiotik berbasis bakteri simbion laut dan mangrove untuk mendukung kesehatan skin barrier.
Riset yang dipimpin oleh Prof Dr Ir Feliatra DEA tersebut berangkat dari meningkatnya permasalahan kerusakan skin barrier akibat paparan polusi, sinar ultraviolet, serta penggunaan bahan sintetis dalam produk perawatan kulit. Di kawasan Asia Tenggara, lebih dari separuh masyarakat perkotaan dilaporkan mengalami gangguan skin barrier yang dipicu oleh faktor lingkungan.
Sementara itu, maraknya produk kosmetik dengan klaim berlebihan dan penggunaan bahan yang berpotensi mengiritasi semakin meningkatkan kebutuhan akan kosmetik berbasis sains yang aman dan ramah bagi kulit.
Melihat kondisi tersebut, para peneliti memanfaatkan potensi mikroba laut dan ekosistem mangrove Indonesia yang selama ini belum dioptimalkan. Postbiotik dipilih karena memiliki keunggulan lebih stabil, aman, serta mampu mendukung keseimbangan mikrobioma kulit.
Produk yang dikembangkan berupa spray postbiotik kosmetik berbentuk cair dengan bahan aktif utama berupa konsorsium postbiotik dari bakteri simbion laut dan mangrove. Formulasi tersebut dipadukan dengan propilen glikol sebagai humektan dan etanol sebagai delivery enhancer untuk meningkatkan efektivitas penyerapan bahan aktif pada kulit.
Dalam perjalanan risetnya, tim konsorsium berhasil mencapai berbagai capaian penting. Peneliti UMRAH, misalnya, berhasil mengisolasi 25 isolat bakteri dari sedimen mangrove di Kepulauan Riau dan menyeleksi lima isolat unggulan berdasarkan aktivitas bioaktif dan pigmentasinya. Berbagai senyawa potensial seperti vitamin E, ursolic acid, betaine, hingga senyawa antiinflamasi dan antioksidan berhasil diidentifikasi sebagai kandidat bahan aktif kosmetik alami.
Sementara itu, tim Unri membuktikan bahwa bakteri laut dan mangrove yang digunakan memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan berbagai bakteri patogen penyebab masalah kulit, seperti Cutibacterium acnes, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Bahkan, formulasi spray dengan konsentrasi ekstrak tertinggi menunjukkan zona hambat yang jauh lebih besar dibandingkan kontrol positif.
Dukungan teknologi lanjutan dari tim Undip melalui analisis LC-HRMS juga berhasil mengungkap lebih dari 200 senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri, antioksidan, pelembab, penguat skin barrier, hingga surfaktan alami. Hasil ini memperkuat potensi produk sebagai kosmetik multifungsi berbasis konsep clean beauty.
Tak hanya unggul dari sisi bioaktivitas, formulasi awal produk juga menunjukkan stabilitas fisik yang baik tanpa perubahan warna maupun presipitasi selama 14 hari penyimpanan pada suhu ruang. Saat ini, teknologi tersebut telah berada pada Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 5–6 atau tahap validasi fungsi di lingkungan yang relevan.
Pengembangan spray postbiotik ini diharapkan dapat memberikan manfaat kesehatan melalui perlindungan dan perbaikan skin barrier, serta mendorong hilirisasi riset bioteknologi kelautan, mengurangi ketergantungan terhadap bahan aktif impor, serta memperkuat industri kosmetik nasional berbasis sumber daya lokal.
Saat ini, tim peneliti juga tengah menyiapkan luaran berupa paten sederhana dan artikel ilmiah internasional sebagai langkah lanjutan menuju komersialisasi inovasi. (mukmin. foto: istimewa)*

