Beginilah Cara Menghilangkan Paham Radikal

unri.ac.id Gerakan radikal di Indonesia seringkali mengatasnamakan agama dan sudah berlangsung sejak abad pertengahan. Dalam kasus terorisme, misalnya karena pelakunya seorang muslim, maka timbul stigma di masyarakat bahwa terorisme identik dengan Islam. Namun, sebenarnya stigma tersebut salah, sebab Islam tidak mengajarkan demikian. Hal ini disampaikan mantan terorisme, Yudi, yang menjadi nara sumber penanggulangan terorisme dihadapan 6151 mahasiswa baru Universitas Riau (Unri) Tahun Ajaran 2018/ 2019 pada kuliah umum di lapangan terbuka depan komplek kampus Fakultas Pertanian Universitas Riau (Unri), Senin (27/8).

Yudi, menyampaikan gerakan radikal bukan berdasarkan agama tertentu, tetapi sekelompok garis keras yang protes terhadap politik suatu negara karena semua agama pernah dimuati paham radikal dan juga terjadi di seluruh dunia. Yudi menceritakan awal mula dia bergabung berawal dari hanya ingin belajar agama. Di tingkat akhir saat kuliah pada tahun 2006 dulu, ada teman pengajian yang mengajak untuk ikut ke suatu jemaah, kelompok pengajian yang lain.

IMG_0329

Sumber: HUMAS Universitas Riau

Lebih lanjut seiring perjalan tersebut, Yudi, ditanamkan rasa kebencian dan paham intoleran yang selalu memvonis kesalahan tertuju kepada Pemerintah karena tidak bersandar pada hukum agama tertentu. Yudi juga mengungkapkan ayahnyalah yang membuatnya lepas dari cengkeraman ideologi menyimpang yang dipelajarinya dulu. Ayahnya, menyuruhnya membaca dua ayat Al-Quran untuk memberikan perbandingan dengan potongan ayat yang diindoktrinasi oleh gurunya.

“Dari peran keluargalah, terutama orang tua yang berpendidikan, berilmu, yang mampu menghilangkan doktrin yang saya terima. Butuh waktu sekurangnya lima tahun lamanya untuk menghilangkan ajaran-ajaran yang dikenalnya sejak tahun 2007 hingga 2010 tersebut,” kata Yudi.

IMG_0009

Sumber: HUMAS Universitas Riau

Dari penjelasan tersebut, Yudi mengimbau kepada para mahasiswa agar menjauhi pemahaman-pemahaman yang mengarah kepada intoleransi dan merasa paling benar sendiri. “Jangan suka memvonis sesat di luar kelompok atau pemahamannya. Merasa paling benar, selalu menganggap kesalaham pemahaman dalam menyikapi perpolitikan dan sistem pemerintahan yang mengakibatkan pemikiran sempit. ini merupakan pondasi awal dan ini belum termasuk radikalisme. Kedua, mengobarkan kebencian dan permusuhan, ketiga, mempermasalahkan agama yag tidak sesuai dengan yang pelajari, dan terakhir, tidak mau makan sembelihan pasar karena tidak sesuai dengan tata cara penyembelihan agama,” tutupnya. (wendi.foto:roger) ***

Skip to content