Saturday, Nov 18, 2017
HomeBeritaUR Fasilitasi Revitalisasi Fungsi dan Peran Pembinaan Pekebun Kelapa Sawit Swadaya di Propinsi Riau

UR Fasilitasi Revitalisasi Fungsi dan Peran Pembinaan Pekebun Kelapa Sawit Swadaya di Propinsi Riau

20171018085045_IMG_4865

unri.ac.id Bersempena dengan Milad Universitas Riau (UR) ke-55, dengan motto “Universitas Riau Jantung Hati Masyarakat Riau,” maka UR bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Riau dan World Resources Institute Indonesia (WRI-Indonesia) mengadakan Workshop bertajuk Penguatan Fungsi Pembinaan Perkebunan Kelapa Sawit Swadaya Menuju Riau Lestari, yang dilaksanakan di Ball Room Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (18/10).

Rektor UR, Prof Dr Ir Aras Mulyadi DEA, menyampaikan kendati pertumbuhan luas lahan perkebunan kelapa sawit milik petani tumbuh pesat, sayangnya tidak diiringi dengan peningkatan pemahaman teknis budidaya kelapa sawit, perawatan tanaman, penggunaan jumlah sarana produksi yang tepat dan optimal, transportasi, teknologi, serta kurangnya informasi berkaitan Good Agricultural Practices (GAP).

“Sampai saat ini, secara umum petani kelapa sawit swadaya mengelola kebun dengan penerapan teknologi budidaya secara konvensional, sederhana dan terkesan seadanya. Sebab itu peningkatan kapasitas petani swadaya menjadi sangat penting, cara demikian bakal mendorong perkebunan kelapa sawit petani swadaya memiliki produktivitas tinggi,” ujar Aras.

20171018090658_IMG_4966

Sumber : HUMAS Universitas Riau

“Pentingnya upaya peningkatan kapasitas petani swadaya yang meliputi petani kelapa sawit swadaya yang mandiri, berdaulat, dan sejahtera, dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas petani swadaya terkait penerapan GAP, penguatan kelembagaan, pendampingan, monitoring, dan evaluasi. Dengan demikian, disisi lain upaya ini juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat yang sejahtera,” terang Guru Besar Bidang Perikanan dan Kelautan UR ini.

“Melihat adanya beberapa persoalan yang terkait dibidang perkebunan, satu diantara satu solusi dalam menjawab persoalan tersebut adalah dengan mengintegrasikan antara petani dan pemerintah setempat ataupun pemerintah desa. Melalui integrasi ini, terjalin sinergisitas antara pengembangan perkebunan kelapa sawit milik petani dengan pendampingan, dan peran pemerintah desa,” jelas Aras.

Lebih lanjut, Aras, menyampaikan sekelompok petani sawit swadaya di Riau belum menganggap isu keberlanjutan sebagai isu prioritas dalam pengelolaan perkebunan. Oleh karena itulah, melalui kegiatan Workshop bertajuk Penguatan Fungsi Pembinaan Perkebunan Kelapa Sawit Swadaya Menuju Riau Lestari ini, peserta dapat menggali permasalahan dan mencari format yang terarah dalam penguatan fungsi pembinaan perkebunan kelapa sawit swadaya menuju Riau Lestari.

“Dengan duduk bersama dan peran aktif pihak-pihak kunci pada hari ini, yaitu pemerintah Propinsi Riau, pemerintah kabupaten, badan, dinas terkait, penegak hukum, Perguruan Tinggi, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga profesi, dan media massa, dapat membangun visi dan strategi bersama guna revitalisasi fungsi dan peran pembinaan pekebun kelapa sawit swadaya di Propinsi Riau,” harap Aras.

Lebih lanjut, pada kesempatan yang sama, Darmadi MSi, selaku Ketua Pelaksana Workshop, melihat kawasan lahan perkebunan yang ada, Provinsi Riau merupakan wilayah perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia. Menurut data statistik sebesar 59 persen dari total dua juta hektare kebun kelapa sawit di Riau merupakan kebun kelapa sawit yang dikelola oleh perkebun swadaya, selebihnya 41 persen merupakan perkebunan besar negara dan swasta.”

20171018090447_IMG_4948

Sumber : HUMAS Universitas Riau

“Luasnya perkebunan sawit swadaya tidak seiring dengan produksi minyak sawit yang dihasilkan. Sesuai Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, menyatakan meskipun persentase perkebunan sawit swadaya lebih luas dibandingkan perkebunan besar negara dan swasta, namun produksi minyak sawit dari perkebunan swadaya hanya sebesar 34 persen dari total produksi minyak sawit di Indonesia,” ujar Darmadi.

Darmadi, juga menyampaikan seiring dengan standardisasi perkebunan kelapa sawit sebagaimana disyaratkan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), tentu fenomena tadi layak menjadi perhatian kita semua. Belum lagi kalau kita melihat aspek lain yang dipersyaratkan oleh ISPO maupun RSPO terkait dengan isu kebakaran lahan, legalitas lahan, biodiversitas, isu sosial  dan hak asasi manusia, penelitian RCCC-UI  2016.

Pada kegiatan Workshop inilah kita dapat berdiskusi untuk mengahsilkan solusi-solusi yang penting dalam upaya penguatan fungsi pembinaan perkebunan kelapa sawit swadaya menuju Riau Lestari. “Untuk memperkuat fungsi pembinaan perkebunan kelapa sawit swadaya menuju Riau Lestari inilah, kita merumuskannya dalam bentuk penyelenggaraan kegiatan workshop, yang mana sebelumnya kita juga melaksanakannya di Kabupaten Rokan Hulu dan Kabupaten Siak Propinsi Riau. (wendi) ***

FOLLOW US ON:
Galeri Investasi Ber
Cermati Peningkatan

rifaldi@staff.unri.ac.id

Rate This Article: